Mengenal Gejala ADHD pada Anak

Perilaku hiperaktif dan impulsif dapat menjadi gejala anak mengidap ADHD. (Gambar: https://pixabay.com/id/photos/anak-meringis-nakal-anak-laki-laki-187697/, diunduh 8 November 2022)

Pernahkah Anda melihat anak yang berperilaku hiperaktif? Anak dengan perilaku hiperaktif dapat dilihat sebagai gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas. ADHD adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan ketidakmampuan memusatkan perhatian, hiperaktif, dan impulsif yang biasanya lebih dari teman sebayanya.

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab ADHD, tetapi ADHD dapat muncul akibat adanya ketidakseimbangan senyawa kimia (neurotransmitter) dalam otak. Selain itu terdapat beberapa faktor lain yang memengaruhi, seperti faktor genetik, lingkungan, kelahiran prematur, serta konsumsi obat-obat terlarang dan alkohol selama masa kehamilan.

Selain penyebab ADHD yang belum diketahui secara pasti, diagnosis gejala ADHD juga sangat beragam. Tidak ada jenis tes yang pasti untuk mengetahui seorang anak mengidap ADHD atau tidak. Ketidakpastian ini terjadi karena gejala ADHD bergantung pada umur, situasi, dan lingkungan anak. Gejala ADHD pada anak biasanya sudah terlihat sebelum usia 6 tahun. Gejala tersebut dapat dikategorikan menjadi 2 jenis masalah perilaku, yaitu inattentiveness (kesulitan berkonsentrasi dan fokus) serta hiperaktif dan impulsif. Tiap jenis masalah tersebut memiliki gejala sebagai berikut.

  1. Inattentiveness (kesulitan berkonsentrasi dan fokus)

Gejala utama anak dengan jenis masalah ini yaitu mudah terganggu dan memiliki rentang perhatian pendek. Anak kesulitan mengerjakan tugas yang membutuhkan fokus dan perhatian panjang. Selain itu, anak juga mudah membuat kesalahan atau ceroboh. Anak juga tidak dapat mendengarkan atau melaksanakan instruksi dengan baik.

  1. Hiperaktif dan Impulsif

Gejala atau tanda-tanda utama anak yang hiperaktif dan impulsif yaitu tidak bisa duduk diam, terutama di lingkungan yang tenang atau sunyi. Anak akan melakukan gerakan fisik dan berbicara secara berlebihan. Anak yang hiperaktif dan impulsif akan bertindak tanpa berpikir. Anak juga memiliki sedikit rasa takut atau sebaliknya sama sekali tidak memiliki rasa takut.

Berbagai gejala di atas dapat menyebabkan masalah signifikan dalam kehidupan anak pengidap ADHD. Masalah yang dialami anak pengidap ADHD misalnya prestasi yang rendah di sekolah, kemampuan interaksi sosial yang buruk, serta sulit berperilaku disiplin. Oleh karena itu, orang tua yang merasa anaknya memiliki gejala ADHD dapat berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan, yaitu dokter anak, psikolog, atau psikiater. Melalui konsultasi dengan pihak-pihak tersebut, orang tua dapat mengetahui apakah gejala yang ditunjukkan anak sesuai dengan diagnosis yang dibuat penyedia layanan kesehatan atau tidak.

Yashinta Dewi

Sumber:

http://web.archive.org/web/20220520104158/https://www.halodoc.com/kesehatan/adhd, diakses 8 November 2022

http://web.archive.org/web/20221027030948/https://www.nhs.uk/conditions/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd/symptoms/, diakses 8 November 2022

http://web.archive.org/web/20221029193859/https://www.cdc.gov/ncbddd/adhd/diagnosis.html, diakses 8 November 2022

Nuryani & Darmawati, Selfia. 2020. Perkembangan Bahasa Pragmatik pada Anak Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD): Kajian Neurolinguistik. JECE (Journal of Early Childhood Education). Vol. 2, No.1.