Menghidupkan Kembali Muruah Metode Sariswara

Metode sariswara memadukan pembelajaran dengan kesenian.
(Gambar: https://www.pexels.com/photo/topless-boy-wearing-yellow-and-blue-feather-headdress-11552119/, diunduh 7 November 2022)

Ki Hajar dewantara merupakan sosok penting di balik terbentuknya sistem pendidikan di Indonesia. Menyandang gelar Bapak Pendidikan Indonesia membuktikan betapa pentingnya sumbangsih pemikiran beliau bagi pendidikan Indonesia sampai saat ini. Sosok dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat tersebut memiliki filosofi bahwa kesenian dan pendidikan merupakan satu kesatuan. Menurutnya, melatih pemikiran dan kepribadian idealnya dijalankan secara bersamaan. Dengan cara tersebut, manusia dapat menentukan sendiri sikapnya tanpa pengaruh orang lain. Begitulah konsep “manusia yang berpribadi”. Konsep ini  selanjutnya akan mengantarkan pada tingkatan “manusia merdeka”.

Konsep yang diusung Ki Hajar termuat secara komprehensif dalam metode pembelajaran Sariswara yang dicetuskannya. Metode sariswara dapat dijadikan rujukan utama dalam pendidikan karakter siswa. Metode ini tidak hanya menyasar pada peningkatan kecerdasan, melainkan pengembangan totalitas jiwa yang memuat aspek cipta, rasa, dan karsa. Ketiga aspek tersebut sangat erat dengan kebudayaan yang tersebar di Indonesia. Dalam hal ini, peran guru diperlukan sebagai penerus Ki Hajar untuk mewujudkan cita-cita sariswara di masa lampau.

Konsep “manusia yang berpribadi” dalam sariswara dapat diimplementasikan oleh guru pada siswa saat pembelajaran. Proses pembelajaran yang dilebur dengan seni dan budaya akan sangat menarik untuk dipraktikkan. Siswa dapat belajar menari sekaligus biologi, bersastra sekaligus belajar toleransi kepada sesama, menyanyi dengan lirik rumus kimia, dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya guru dapat menggunakan kebudayaan setempat untuk dilebur dalam pembelajaran, sebagai contoh menggunakan cerita rakyat untuk mengajarkan wujud norma masyarakat setempat. Dengan cara demikian, guru sudah berperan dalam dua fungsi penting, yaitu sebagai pengajar siswa dan pelestari kebudayaan.

Metode sariswara dapat dikatakan sebagai metode tua, tetapi tidak dengan relevansinya. Oleh karena itu, guru perlu untuk memahami dasar dan filosofi sariswara. Pemahaman tersebut akan mengantarkan guru pada “manusia merdeka” yang selanjutnya dapat dijadikan bekal dalam mewujudkan program “merdeka belajar”.

Bagas Reista

Sumber: 

http://web.archive.org/web/20221121011408/https://labsariswara.home.blog/metode-sariswara/, diakses 7 November 2022