
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki sumber daya alam berlimpah. Keberlimpahan ini tidak cuma-cuma karena disertai dengan potensi bencana yang mengikuti. Indonesia dapat dikatakan memiliki potensi bencana yang lengkap, mulai dari gempa, banjir, longsor, tsunami hingga bencana sosial. Potensi bencana ini tentu saja perlu ditanggapi dengan bijak secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh. Program satuan pendidikan aman bencana diperlukan sebagai upaya dalam membangun budaya siaga dan aman di sekolah. Program satuan pendidikan aman bencana bertumpu pada tiga pilar, yaitu fasilitas sekolah yang aman, manajemen bencana sekolah, serta pendidikan dan pengurangan risiko bencana.
Dengan kondisi Negara Indonesia yang memiliki banyak potensi bencana alam, kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana menjadi salah satu isu penting dalam usaha pengurangan risiko bencana. Keberadaan bencana pada dasarnya tidak diharapkan oleh pihak mana pun. Akan tetapi, ada tindakan yang dapat dilakukan, yaitu meningkatkan kesigapan ketika terjadi bencana dan kesiapsiagaan ketika tidak atau belum terjadi bencana. Tindakan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa bencana datang tanpa dapat diperkirakan.
Berikut berbagai indikator yang digunakan sebagai parameter analisis kesiagaan terhadap bencana pada sektor pendidikan.
- Pengetahuan dan sikap terhadap bencana
Pengetahuan yang dimiliki mempengaruhi sikap dan kepedulian warga sekolah untuk siap dan siaga dalam mengantisipasi bencana, terutama bagi yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana.
- Rencana tanggap darurat
Rencana tanggap darurat menjadi bagian penting dalam suatu proses kesiapsiagaan, terutama yang terkait dengan evakuasi, pertolongan, dan penyelamatan agar korban bencana dapat diminimalkan. Rencana tanggap darurat sangat penting terutama pada hari pertama terjadi bencana ketika bantuan dari pihak luar belum datang. Dalam rencana tanggap darurat ini sekolah memastikan pembagian kerja sumber daya yang ada pada saat bencana.
- Sistem peringatan dini
Sistem peringatan meliputi tanda peringatan dan distribusi informasi jika terjadi bencana. Sistem peringatan yang baik memastikan seluruh warga sekolah dan sekitarnya mengerti informasi yang diberikan oleh tanda peringatan dan selanjutnya mereka mengetahui tindakan yang harus dilakukan
- Sumber daya pendukung
Indikator ini umumnya melihat berbagai sumber daya yang dibutuhkan sekolah dalam upaya pemulihan atas kondisi bencana atau keadaan darurat, baik dari internal maupun eksternal. Sumber daya ini dapat dibagi menjadi tiga bagian: sumber daya manusia, sumber daya pendanaan/logistik, serta sumber daya bimbingan teknis dan penyediaan materi.
- Modal sosial
Modal sosial dapat menjadi penggerak indikator kesiapsiagaan lainnya seperti menyepakati evakuasi yang sama, sepakat dalam mengikuti pelatihan, dan bersama-sama dalam melakukan tindakan kesiapsiagaan lainnya. Modal sosial yang solid akan mempermudah warga sekolah dalam melakukan mobilisasi pada saat evakuasi akan dilakukan.
Pendidik dan tenaga kependidikan memiliki peranan penting untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman. Kesiapsiagaan warga sekolah terutama kepala sekolah, guru, dan karyawan terhadap bencana merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan kondisi tersebut.
Shadam Fat Dholym
Sumber:
https://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/penguatan-mitigasi-dan-tanggap-darurat-bencana-di-satuan-pendidikan, diakses 28 Desember 2022
https://bpbd.pacitankab.go.id/pentingnya-edukasi-bencana-sejak-dini/, diakses 28 Desember 2022
https://siaga.bnpb.go.id/hkb/berita/pentingnya-edukasi-siaga-bencana-sejak-dini, diakses 28 Desember 2022
