Implementasi Kurikulum Merdeka Sebagai Strategi dalam Menghadapi Learning Loss

Implementasi Kurikulum Merdeka dapat digunakan untuk menghadapi learning loss dan mendukung pemulihan pembelajaran.
(Gambar: https://pusatinformasi.guru.kemdikbud.go.id/hc/en-us/articles/6824331505561, diakses 19 Oktober 2022)

Pandemi Covid-19 menyebabkan krisis pembelajaran dan hilangnya pembelajaran atau learning loss. Learning loss merujuk pada kondisi hilangnya pelajaran dan keterampilan, serta terjadinya kemunduran proses akademik akibat faktor tertentu seperti pandemi dan libur panjang. Pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan ditutupnya pembelajaran tatap muka akibat pandemi juga menjadi penyebab learning loss yang dialami siswa. Learning loss mencakup menurunnya kemampuan literasi dan numerasi yang signifikan.

Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), salah satu indikasi learning loss atau hilangnya pembelajaran, yaitu berkurangnya kemajuan belajar siswa dari kelas 1 hingga kelas 2 SD setelah satu tahun pandemi. Pada tahun 2020, untuk memitigasi adanya learning loss dan memulihkan pembelajaran, sekolah diberi dua pilihan, yaitu menggunakan Kurikulum 2013 secara penuh atau Kurikulum Darurat (Kurikulum 2013 yang disederhanakan). Selama kurun waktu 2020-2021, diketahui siswa yang menggunakan Kurikulum Darurat memiliki capaian belajar lebih baik daripada siswa yang menggunakan Kurikulum 2013.

Pada masa pandemi 2021-2022, Kemdikbudristek kemudian mengeluarkan kebijakan penggunaan Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat, dan Kurikulum Merdeka. Implementasi Kurikulum Merdeka dianggap sebagai upaya perbaikan dan pemulihan pembelajaran bagi sekolah yang siap melaksanakan kurikulum tersebut. Kurikulum Merdeka juga menjadi salah satu strategi menghadapi learning loss karena dikembangkan sebagai kurikulum yang lebih fleksibel dan fokus pada materi esensial, pengembangan karakter, serta kompetensi siswa.

Dalam konteks pemulihan pembelajaran tahun 2022-2024, Kemdikbudristek mengeluarkan kebijakan bahwa sekolah yang belum siap menggunakan Kurikulum Merdeka dapat menggunakan Kurikulum 2013 atau Kurikulum Darurat. Apabila sekolah telah siap mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, sekolah perlu menerapkan beberapa strategi berikut agar implementasi kurikulum berjalan lancar.

  1. Mengadopsi Kurikulum Merdeka secara bertahap.
  2. Menyediakan asesmen dan perangkat ajar (high tech).
  3. Menyediakan pelatihan mandiri dan sumber belajar guru (high tech).
  4. Menyediakan narasumber Kurikulum Merdeka (high touch).
  5. Memfasilitasi pengembangan komunitas belajar (high touch).

Kurikulum Merdeka merupakan salah satu opsi yang dapat dipilih untuk menghadapi learning loss, memulihkan proses pembelajaran, dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Kurikulum tersebut dapat diimplementasikan sesuai kesiapan masing-masing sekolah. Kepala sekolah bersama guru atau tenaga pendidik memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai kebutuhan masing-masing sekolah. Dalam pelaksanaannya, bagaimana kurikulum tersebut diterapkan merupakan tugas sekolah serta otonomi bagi kepala sekolah dan guru.

Yashinta Dewi

Sumber:

http://web.archive.org/web/20220126133838/https://tekno.tempo.co/read/1511437/apa-itu-learning-loss-yang-ditakutkan-nadiem-makarim, diakses 19 Oktober 2022

http://web.archive.org/web/20221019043151/https://gtk.kemdikbud.go.id/index.php/read-news/dorong-pemulihan-pembelajaran-di-masa-pandemi-covid19-kurikulum-nasional-siapkan-tiga-opsi, diakses 19 Oktober 2022

http://web.archive.org/web/20221004153846/https://kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id/detail-ikm/, diakses 19 Oktober 2022

https://pusatinformasi.guru.kemdikbud.go.id/hc/en-us/articles/6824331505561-Tentang-Kurikulum-Merdeka, diakses 19 Oktober 2022